Thursday, June 7, 2007

Menulis Sebagai Terapi Emosi

Berkisahlah kemudian Pennebaker tentang veteran perang Vietnam bernama John Mulligan. “Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan-jalan di jalanan. Menulis telah membuatku merasa punya jiwa,” ujar Pak Pennebaker mengutip pernyataan John Mulligan ketika menyampaikan pengalaman pada WebMD.

Menurut tuturan Pennebaker, John Mulligan menjadi punya jiwa setelah dia mengikuti workshop menulis untuk para veteran perang Vietnam yang dipandu pengarang terkenal Amerika Serikat, Maxine Hong Kingston. Maxine menganjurkan kepada para veteran perang tersebut untuk mengungkapkan semua pengalaman traumatis dalam bentuk tulisan. Apa yang diperoleh John Mulligan kemudian? Mulligan, yang berusia 49 tahun ketika menyampaikan pengalamannya kepada WebMD, dapat melahirkan novel berjudul Shopping Cart Soldiers! Dan tak cuma itu, setelah mengikuti workshop menulis setahun kemudian dapat berdamai dengan dirinya. Dia dapat memindahkan pengalaman buruknya di medan perang ke dalam kata-kata. Pikirannya pun menjadi jernih dan - sebagaimana disampaikannya sendiri- “jiwanya menjadi eksis”.

“Lusinan penelitian telah membuktikan bahwa kebanyakan orang yang pernah memiliki trauma buruk di masa lalunya akan menjadi lebih baik dan lebih sehat setelah menulis,” demikian ujar Pennebaker.


Journal of the American Medical Association, edisi 14 April 1999, melaporkan bahwa menulis secara ekspresif dapat menurunkan simptom asma dan rheumatoid arthritis. Joshue Smith, Ph.D., asisten profesor psikologi dari North Dakota State University dan koleganya, melakukan penelitian dengan meminta sebanyak 70 penderita asma dan rheumatoid arthritis untuk menulis tentang peristiwa paling menekan dalam kehidupannya.

Partisipan dari penelitian tersebut dianjurkan untuk menulis tentang luka masa lalunya selama 20 menit dalam 3 hari. Kelompok lain yang terdiri dari 37 pasien diminta untuk menulis tentang rencana mereka pada hari itu. Empat bulan kemudian, 47 persen dari kelompok yang menulis tentang trauma masa lalunya menunjukkan perbaikan signifikan. Mereka rata-rata merasakan berkurangnya rasa sakit berkaitan dengan rheumatoid arthritis yang mereka derita. Kapasitas paru-paru pun dikabarkan meningkat bagi para penderita asma. Sementara itu hanya 24 persen yang menunjukkan kemajuan seperti itu bagi mereka yang hanya menulis kehidupan sehari-harinya.


Para peneliti tak tahu mengapa menulis tentang peristiwa yang menyakitkan dapat memperbaiki kesehatan. Bisa jadi, menyalurkan emosi secara bebas dan juga mengalirkan luka masa lalu secara ekspresif dalam bentuk tertulis telah membantu seseorang untuk membangun jalan untuk berdamai dengan masa lalunya. “Pada pokoknya,” pesan Pennebaker, “bagi yang mengalami keguncangan jiwa atau mengalami depresi, bergegaslah menulis. Menulislah secara sangat bebas tanpa memperdulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin.”

Percaya atau tidak, saya sendiri telah merasakan manfaat menulis bagi perkembangan emosiku. Pada umumnya orang yang gemar menulis bisa menuangkan unek-unek kedalam tulisan. Bagi anda yang terbiasa menulis buku harian, coba bacalah. Saya beberapa hari kemarin ketawa-ketiwi sendiri membaca buku harian ketika masih SMP. Kata orang, kalau ada masalah tidak baik disimpan sendiri dan harus dikeluarkan. Menulis bisa jadi salah satu media distribusi yang baik untuk mengeluarkan masalah dari benak.


* Dikutip dari buku Bu Slim & Pak Bil : Menggagas Kembali Pendidikan Berbasis Buku, karya Hernowo, Penerbit MLC 2004.

Kecerdasan + Kesuksesan = Kebahagiaan?


Suatu kebahagiaan dan kesuksesan dapat diprediksi!.

Bahagia dan sukses adalah buah dari perilaku. Karena itu bila kita mempunyai perilaku orang yang bahagia dan sukses, pasti suatu saat menjadi bahagia dan sukses pula.. Perilaku adalah buah dari kebiasan. Kebiasaan dimulai dari sikap. Sikap dipengaruhi oleh paradigma. Paradigma dipengaruhi oleh pengetahuan. Jadi, awalnya adalah pengetahuan. Setiap hari, pengetahuan beredar secara berlimpah ruah di sekeliling kita. Kemampuan menangkap pengetahuan, mengolahnya, menghayatinya, dan menjadikannya sebagai aksi untuk meraih tujuan, sangat dipengaruhi oleh kecerdasan.

Dr. Stanley dalam karyanya The Millionaire Next Door yang berisi penelitiannya terhadap para milyuner di Amerika menunjukkan bahwa para orang sukses memiliki kecerdasan yang cukup baik. Para milyuner yang diteliti berasal dari berbagai kalangan seperti kontraktor las, penjual barang bekas, petani, pembasmi hama, hingga penjual koin. Yang jelas, mereka mempunyai satu kesamaan yaitu sangat merdeka secara finansial. Kebanyakan mereka hidup relatif sederhana dibandingkan dengan jumlah kekayaannya. Mobil mereka seperti rata-rata milik orang kebanyakan, rumah mereka berada di perumahan orang kebanyakan. Mereka juga bergaul dengan orang kebanyakan. Sebagian besar dari mereka tidak suka tampil di depan publik. Mereka rata-rata bersekolah dengan baik. Kalaupun putus sekolah, itu dikarenakan kondisi ekonomi keluarga, bukan karena mereka tidak cerdas. Jadi para milyuner ini memiliki kecerdasan intelektual, IQ, yang baik.

Para milyuner juga adalah orang-orang yang tangguh, ulet, sabar, mampu mengendalikan diri, bermasyarakat dengan baik, memiliki keluarga harmonis, dan berbagai hal lain yang menjadi bukti bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional, EQ, yang baik. Semua dari mereka juga setuju bahwa kehidupan spiritual, pelayanan, dan sedekah adalah hal yang sangat penting. Kebanyakan dari mereka menyumbangkan penghasilan 10 persen atau lebih dari pendapatan kotor.

Mereka meyakini Tuhan sebagai sumber pemberi rizki, sebagai pendamping yang tidak kelihatan, atau sering disebut sebagai "silent partner". Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kecerdasan spiritual, SQ yang sangat baik.